Translate

Thursday, August 13, 2015

my dolls my friends

As usually, gue selalu memberikan nama untuk boneka gue ketika dikasih oleh orang-orang terdekat gue. Apalagi barang yang dikasih berkesan. Selalu ada kisah dibalik nama itu. Okay, gue akan cerita satu per satu dan menunjukkan foto mereka.

1. My big teddy, Andrew.
Waktu itu kelas 3 SMP, gue beli dia dengan uang tabungan sendiri. Butuh waktu hampir 2 tahun maybe untuk ngumpulin uang ratusan ribu hanya untuk beli boneka beruang yang besar. 
Jadi, kenapa sih gue kasih dia nama Andrew?
Suatu hari, gue pergi bersama sepupu gue ke salah satu mall di Jakarta dan ternyata sepupu gue ini membawa (sekarang jadi mantan) pacarnya dan teman dekatnya. Sebut aja si Andrew ini. Sebenarnya, secara fisik Andrew bukanlah cowok yang oke menurut gue. Dia kurus, kulitnya hitam (bukan rasis), dan lain-lain. Ya pokoknya anak ini bukan tipe gue. Di mall itu kita jalan-jalan berempat dan main basket bareng.
Beberapa minggu kemudian, gue dan sepupu gue jalan bareng lagi. Dia curhat bahwa si Andrew ini ternyata orangnya setia, walaupun udah dijahatin sama pacarnya tapi dia tetep cinta. (Gue gak akan ceritain kisah orang, karena menurut gue ini gak etis kalau curhatan dibagi-bagi ke orang banyak)
Andrew mengajarkan gue tentang arti kesetiaan.

2. My lovely, Mario.
Boneka ini dikasih oleh geng SMP gue saat gue berulangtahun. Di tahun yang sama, gue mengikuti acara gereja dan gue berkenalan dengan seorang cowok. Gak kenalan secara langsung sih. Ya gue tau dia karena dia salah satu panitia di acara itu. Jadi ceritanya, kita diwajibkan untuk tumpang tangan saat berdoa. Nah kebetulan, Mario berada di samping kiri gue. Pas gue taruh tangan gue di atas  tangan dia, gue merasakan tangan dia dingin dan gue juga dingin. Kita berdua saling pandang-pandangan dan senyum (padahal dalam keadaan berdoa). Ya selanjutnya, setiap kali kita adu pandang, kita saling senyum.
Mario mengajarkan gue tenang senyum dan percayakan segalanya kepada Tuhan.

3. My hope, Danish.
Boneka ini dikasih oleh teman-teman kuliah gue untuk merayakan kelulusan sarjana. Selesai sidang gue dikasih boneka ini.
Kenapa ya dikasih nama Danish?
Heem, butuh 2 hari memikirkan kira-kira nama siapa yang tepat untuk dia. Jadi, gue kenal dengan seseorang yang bernama Danish. Di tahun yang sama gue lulus (yaitu tahun ini), gue sempat bertukar pikiran tentang "gue mau jadi apa sih". Nah saat itu, dia nanya-nanya gue passion gue dimana. Dengan santai gue jawab gue passion berurusan dengan anak-anak dan pengen banget buka daycare. Terus dia nanya, skripsinya tentang apa, coba ceritain tentang anak-anak apa yang membuat gue tertarik dengan anak-anak, dll. Kemudian, dengan santai dan senyum dia bilang cocok kok buat daycare karena cara pikir gue dari sisi perkembangan. Dan menurut dia, gue bisa untuk mengejar mimpi gue itu.
Danish mengajarkan gue tentang mimpi yang harus dikejar setinggi-tinggi langit.

No comments: