Translate

Thursday, October 4, 2012

pangeran kodok

Dahulu kala, ketika saat itu dengan mengharapkan sesuatu, hal itu dapat terwujud, ada seorang Raja yang mempunyai putri-putri yang sangat cantik jelita dan putrinya yang termuda begitu cantiknya sehingga matahari sendiri yang melihat kecantikan putri termuda itu menjadi ragu-ragu untuk bersinar. Di dekat istana, ada sebuah hutan kayu yang gelap dan rimbun. Disana ada sebuah pohon tua yang daunnya berbentuk hati dan berada dekat dengan sumur.

Ketika cuaca panas, putri Raja yang termuda sering ke hutan tersebut dan duduk di tepi sungai yang dingin dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan mengangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.

Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan ke atas, bola emas itu masuk ke dalam sumur tersebut. Ia mulai menangis dan terus menangis seolah-olah tidak ada yang bisa menghiburnya. Ditengah-tengah tangisannya dia mendengar suara yang berkata, "Apa yang membuat kamu begitu sedih? Air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu." Ketika putri raja tersebut melihat darimana sumber suara tersebut berasa, tidak ada seseorang pun yang terlihat, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang besar keluar dari sungai.

"Oh kamukah yang berbicara?"tanya sang putri. "Saya menangis karena bola emas saya masuk ke dalam sumur." Sang kodok pun berkata, "Jangan kuatir dan jangan menangis. Saya akan menolong kamu, tetapi apa imbalan yang kamu berikan ketika saya telah menolongmu?"

"Apapun yang kamu inginkan,"katanya, "Pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau atau mahkota emas yang saya pakai ini."

"Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas bukanlah untuk saya."ucapnya, "Bila saja kamu menyukaiku dan menganggap saya sebagai teman bermain dan membiarkan saya duduk di mejamu, makan dari piringmu, minum dari gelasmu dan tidur diranjangmu, saya akan mengambilkan bola emasmu."

"Ya tentu", jawab sang putri, "Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emasku." Tetapi putri raja tersebut berpikir, 'Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini. Seolah-olah dia bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaiamana ia bisa menjadi pendampingku?'

Setelah mendengar janji dari putri si kodok tersebut masuk ke dalam air dan mulai menyelam turun, setelah beberapa saat dia kembali ke permukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput. Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali dan dia mengambilnya, kemudian lari menjauh. "Berhenti, berhenti!"teriak sang kodok, "Bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu."

Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkan dan mempercepat larinya pulang ke istana. Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dengan piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga dan kemudian terdengar suara ketukan pintu, "Putri raja yang termuda, biarkanlah saya masuk!"

Putri Raja yang termuda itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut. Ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup kembali pintunya. Ia tergesa-gesa duduk kembali di kurisnya dengan perasaan gelisah. Raja menyadari perubahan tersebut, "Ada apa anakku? Apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?"

"Oh tidak."jawabnya, "Tidak ada raksasa, hanya kodok jelek." Raja bertanya lagi, "Apa yang kodok itu minta?". Si putri menceritakan kembali kisahnya kemarin.

Kemudian, mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata, "Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untuk saya. Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Buka!" Sang Raja yang bijak pun berkata, "Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi dan sekarang biarkanlah dia masuk."

Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri itu duduk kembali di kursinya, Kemudian si kodok berhenti dan memohon, "Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu."

Tetapi Putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agat dinaikkan di atas meja dan disana disana dia berkata lagi, "Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama." Putri Raja tersebut melakukan  apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.

"Saya merasa cukup sekarang,"kata sang kodok pada akhirnya, "Saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu."

Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya, "Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi."

Sang putri mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, "Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya ke atas ranjangmu atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu."

Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut ke atas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis, "Diamlah kamu kodok jelek!" Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah menjadi seorang pangeran tampan. Ia menceritakan bahwa ia disihir oleh penyihir jahat yang membuat kutukan dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk hidup bersama dalam memerintah kerajaannya.

Dengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana uang ditarik oleh delapan ekor kuda, diiringi oleh Henry (pelayan setia sang pangeran) untuk membawa sang putri ke kerajaan. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang pangeran mendengarkan suata seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata pada Henry, "Hendry, roda kereta mungkin patah." Tetapi Henry menjawab, "Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah dan sekarang aku bebas."

Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok, agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.

JANJI ADALAH HUTANG DAN HARUS DILUNASI, SEBELUM MENJANJIKAN SESUATU, PIKIRKAN DULU DENGAN BIJAK, KEPUTUSAN APA YANG HARUS DIAMBIL. AGAR TAK ADA PENYESALAN DIAKHIRNYA. - OCTAVIA PUTRI TJAJADI

AKU MENCINTAIMU. ITU SEBABNYA AKU TAKKAN PERNAH SELESAI MENDOAKAN KESELAMATANMU. - SAPARDI DJOKO DAMONO.

No comments: