Translate

Wednesday, May 31, 2017

Taro, Sang Saudagar Jerami

Di sebuah desa di Jepang, hiduplah seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Setiap hari, ia bekerja di ladang orang lain. Lalu, saat malam tiba, ia menumpang tidur di sebuah kuil.

Taro selalu berdoa sebelum tidur. "Wahai, Dewa! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh selama hidupku. Tapi, mengapa aku tetap saja miskin?

“Tolonglah aku, Dewa. Aku ingin hidup senang," demikian doa Taro.

Pada suatu malam, ada suara misterius membangunkan Taro, “Taro, dengarlah baik-baik! Ambil dan bawalah selalu benda yang pertama kali kau dapatkan esok hari! Benda itu akan membuatmu bahagia."

Keesokan harinya, ketika Taro keluar dari pintu kuil, Taro tersandung batu dan jatuh. Tanpa sadar, ia telah menggenggam sebatang jerami.

"Apakah benda ini yang dimaksud suara semalam itu? Tapi, ini hanya sebuah jerami? Bagaimana bisa jerami ini akan mendatangkan kebahagiaan bagiku?" pikir Taro.

Walaupun agak kecewa dengan benda yang didapatkannya, Taro tetap membawa jerami itu.

Saat Taro bekerja di ladang, seekor lalat besar mengganggunya. Lalat itu terbang di atas kepala Taro berulang-ulang. Kesal oleh ulah lalat itu, Taro menangkapnya dan mengikatnya dengan jerami yang ia bawa. Kemudian, Taro mengikat ujung jerami satunya di sebuah ranting sehingga lalat tersebut terbang berputar-putar bergantungan pada jerami.

Saat itu, lewat kereta kuda mewah yang diikuti dua pengawal yang menunggang kuda. Kereta kuda itu membawa orang kaya.

Di dalam kereta, seorang anak memerhatikan lalat yang diikat Taro dengan batang jerami. "Aku ingin mainan itu," kata si anak yang mengira itu adalah mainan.

Kereta segera berhenti. Ibu anak itu keluar menghampiri Taro dan meminta "mainan lalat" milik Taro. Sang ibu berjanji memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.

"Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk," ujar Taro senang.

Saat hari mulai sore, Taro beranjak pulang. Di perjalanan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang beristirahat dan terlihat sangat kehausan.

"Aku haus sekali. Di mana aku menemukan mata air di sini?" tanya wanita itu.

"Ada di kuil, tetapi jaraknya masih jauh. Kalau Anda haus, ini kuberikan jerukku," kata Taro sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu.

“Terima kasih, anak muda. Sebagai rasa terima kasihku, terimalah kain tenun ini," ujar wanita tua itu.

Taro gembira sekali mendapatkan kain itu. Tak lama kemudian, lewat rombongan samurai yang menunggang kuda. Tiba-tiba, kuda salah satu samurai terjatuh dan tidak bergerak lagi.

"Aduh, padahal kita sedang terburu-buru," kata samurai.

Para Samurai pun mendiskusikan apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu. Taro kemudian menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya, Taro memberikan kain tenun pemberian wanita tua kepada para samurai. Mereka pun setuju.

Lalu, Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Setelah itu, Taro membawa kuda yang sudah sehat.

Di sebuah rumah di pinggir desa, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro.

Kemudian, Taro masuk ke halaman rumah mereka dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik rumah berkata, "Wah, kuda yang bagus. Aku menginginkannya. Tetapi, saat ini aku tidak mempunyai uang. Bagaimana kalau kuganti dengan sawahku?" katanya.

"Baik, uang kalau dipakai segera habis. Tetapi, sawah bila digarap akan menghasilkan beras. Silakan kalau mau ditukar," kata Taro.

"Kau bijaksana sekali. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau tinggal di sini untuk menjaga sawahku?" tanya si pemilik rumah.

"Baik, terima kasih, Tuan," jawab Taro.

Sejak saat itu, Taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya yang sangat banyak.

Semakin lama, Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia diberi julukan "Saudagar Jerami."

Pesan Moral:
Jadilah anak yang jujur dan baik hati. Ingatlah untuk selalu berdoa dan berusaha agar keinginanmu tercapai. Ingat jangan mudah rnenyerah dan putus asa. Sebab orang yang putus asa tidak akan mendapatkan apa-apa.


Sumber: dongengceritarakyat.com

Friday, May 26, 2017

Nasib Burung Hantu Pemalas

Dahulu kala, hiduplah seekor burung hantu abu-abu di sebuah hutan yang lebat. Burung hantu sangat pemalas. la tidak suka terbang berpindah dari sawah dahan ke dahan lain dan hanya berdiam di satu dahan seharian.

Pada suatu hari, burung hantu sedang tidur di dahannya. Tiba-tiba, burung pelatuk hinggap di batang pohon tidak jauh dari burung hantu. Burung pelatuk mulai mematuki batang pohon dengan cepat.

Suara bising burung pelatuk membangunkan burung hantu. la menggerakkan sayapnya sedikit dan dengan malas mengusir burung pelatuk. "Mengapa kau berisik sekali? Kau mengganggu tidurku, Pelatuk jahat?" kata burung hantu.

"Aku sedang mencari makanan," jawab burung pelatuk.

"Carilah makanan di tempat lain. Enyahlah kau!" bentak burung hantu.

"Semua orang sibuk bekerja, hanya engkau yang bermalas-malasan," kata burung pelatuk sambil pergi.

Burung hantu kembali tidur. Tapi, belum sempat menutup mata, ia mendengar suara siulan menakutkan magpie (sejenis burung gagak di daratan Eropa). Suaranya keras sekali karena magpie bertengger tidak jauh dari burung hantu.

"Hei, berisik! Pergilah kau!" usir burung hantu.

Magpie tidak takut pada burung hantu. "Mengapa engkau tidur terus? Lihatlah sekitarmu! Semua burung sibuk sekali. Ada yang mencari makanan, membangun sarang, dan sebagainya," kata magpie.

Sebelum burung hantu menjawab, magpie sudah pergi dengan acuh tak acuh. Lalu, ketika burung hantu akan tidur lagi. Tiba-tiba, la merasakan seekor burung kecil terbang di atas kepalanya. Saat ia membuka mate, ia melihat burung tomtit (sejenis burung pipit) sedang mengumpulkan ranting pohon untuk membuat sarang.

Burung hantu mengawasi tomtit yang sedang sibuk. "Suatu hari aku juga akan membangun sarangku," pikir burung hantu.

Malam telah tiba. Udara saat itu sangat dingin. Burung hantu menjadi gemetar kedinginan. la menekankan sayap ke tubuhnya dan teringat sarang tomtit yang hangat. "Andaikan saja aku bisa tidur di sarang sehangat itu," pikir burung hantu.

Malam semakin dingin. Rasa-rasanya burung hantu akan mati oleh dinginnya malam. Tapi, pagi pun tiba dan matahari terbit. Burung hantu mulai merasa hangat lagi. la lupa pada keinginannya membangun sarang dan tertidur lagi.

Begitulah seterusnya burung hantu yang malas. la tidak pernah membangun sarangnya.

Pesan moral:
Jangan jadi anak pemalas. Orang yang malas merugi. jadilah anak yang mandiri dan suka bekerja. Orang yang rajin akan sukses dan bahagia dimasa yang akan datang.


Sumber: dongengceritarakyat.com

Saturday, May 20, 2017

Kenapa masih jadi blogger daripada vlogger?

Sebelum bahas kenapa, lebih baik kita cari tahu perbedaannya terlebih dahulu.

  • Vlogger adalah orang yang membuat sebuah blog berupa video, biasanya video itu dipublikasikan ke situs-situs video seperti YouTube. Aktivitas yang dilakukan oleh vlogger adalah Vlogging, vlogging itu singkatan dari Video Blogging. 
  • Vlog merupakan video singkat yang berisi konten berupa daily activity, review singkat, curhat, dan beberapa juga endorsement.
  • Blogger adalah orang yang membuat sebuah blog berupa tulisan, biasanya tulisan itu dipublikasikan ke situs-situs seperti Blogger, WordPress, atau blog buatan sendiri. Blogger itu orang yang ngeblog, aktivitas yang mereka lakukan adalah Blogging.
  • Konten tersebut bisa berupa curhatan sehari-hari, review singkat, sharing ilmu atau pengalaman bahkan beberapa blog kekinian mulai merambah dunia endorsement guna menghidupi blog itu sendiri.

Intinya vlogger sama blogger itu cuma beda dengan medianya, kalau seorang vlogger itu butuh kamera, perlengkapan penerangan, ide-ide yang dibutuhkan, software editing. Sementara, blogger itu butuh pemikiran yang matang, ide-ide yang dibutuhin, tempat yang nyaman untuk ngebuat suatu blog.

Setelah dilihat dari keduanya, kalian pasti bisa menentukkan mana yang sesuai dengan diri kalian masing-masing. Tapi pendapatku, aku prefer masih blog. Kenapa? Mari saya jabarkan alasannya.
1. Selama ini kita (anak-anak angkatan abad 19), dibiasakan untuk membaca buku. Ada kata pepatah yang mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia. Jadi, dengan saya menulis blog, kalian bisa baca ide-ide pemikiran daripada hanya menonton dan mendengar.
2. Sama seperti yang dijabarkan di atas, mengenai media. Sejujurnya, saya tidak punya hal-hal lainnya, kecuali laptop/hp dan ide. So, saya lebih memilih blog.
3. Kalau diperhatikan (mungkin dari sisi psikologis), ketika anak hanya diberikan untuk lihat video, kemampuan bahasannya kurang berkembang. Berbeda ketika anak tersebut membaca. Anak akan mencari artinya atau bertanya kepada orang lain yang lebih mengerti. Hal ini berkaitan dengan sisi psikologis dan perkembangan bahasa.
4. Selanjutnya, ketika anak hanya menonton, berarti ia hanya melihat apa yang telah disediakan di depannya. Berbeda dengan anak yang membaca, ia akan berpikir dan berimaninasi sendiri. Dengan begitu anak bisa lebih kreatif.
5. Terakhir, masih di dalam periode anak-anak. Ketika anak dibiasakan membaca dan mencaritahu sendiri, pemikirannya lebih berkembang dibandingkan anak yang hanya diberikan "suguhan" saja.

So, ketika anak-anak aja diminta untuk membaca, masa orang dewasa tidak memberi contoh dan hanya menuntut perilaku anak saja? Anak diminta berubah, tapi kita enggak.

Itu sih pemikiran saya, bagaimana dengan pemikiranmu?

Sunday, May 7, 2017

Gadis Kecil Dan Tujuh Burung Gagak

Dahulu kala, ada seorang bapak yang memiliki tujuh orang anak laki-laki. la sangat menginginkan anak perempuan. Setiap malam, ia berdoa agar dikaruniai anak perempuan. Tidak lama kemudian, istrinya hamil dan melahirkan seorang anak perempuan.

Sayangnya bayi perempuan yang baru lahir itu sangat kecil dan sering sakit-sakitan. Seorang tabib memberitahu si bapak agar mengambil air sumur di pinggir hutan lalu memandikan bayi perempuannya dengan air dari sumur itu.

Kemudian, si bapak menyuruh salah seorang anak laki-lakinya untuk mengambil air itu. Namun, semua anak ingin pergi mengambil air. Mereka berIari secepat-cepatnya, masing-masing ingin lebih dulu mengambil air dari sumur.

Ketika mereka tiba di sumur, semua berebutan mengisi kendi dengan air sumur. Kendi pun akhirnya jatuh ke dalam sumur. Ketujuh anak laki-laki itu terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa. Tak satu pun dari mereka berani pulang ke rumah.

Si bapak yang lama menunggu di rumah akhirnya hilang kesabaran. Tanpa sadar, ia mengutuk ketujuh anaknya, "Mereka pasti bermain-main. Dasar anak-anak nakal. Semoga semua anak lakilakiku itu berubah menjadi burung gagak."

Sesaat setelah kata itu keluar dari mulutnya, si bapak mendengar kepakan sayap burung. Si bapak keluar dan melihat tujuh ekor burung gagak hitam terbang menjauh. Si bapak menyesal karena telah mengeluarkan kata-kata kutukan. la tidak tahu bagaimana membatalkan kutukan itu.

Sementara itu, anak perempuannya akhirnya berangsur-angsur sehat dan tumbuh menjadi gadis yang cantik. Gadis itu tidak mengetahui bahwa dia mempunyai tujuh orang kakak laki-laki. Sampai suatu hari, secara tidak sengaja ia mendengar tetangganya sedang membicarakannya.

"Gadis tersebut memang sangat cantik, tetapi ia harus disalahkan karena mengakibatkan nasib buruk pada ketujuh saudaranya," kata salah seorang tetangga.

Si gadis sedih mendengarnya dan bertanya kepada orangtuanya tentang ketujuh saudaranya. Akhirnya, orangtuanya menceritakan semua kejadian yang menimpa ketujuh saudara gadis itu. Si gadis pun bertekad akan mencari ketujuh saudaranya.

Esok harinya, si gadis diam-diam meninggakan rumah. la membawa sebuah cincin kecil milik orangtuanya, sepotong roti untuk menahan lapar, dan sedikit air untuk rnenahan haus. la berjalan terus tanpa henti.

Suatu malam, bintang fajar muncul dan memberikan sebuah tulang ayam pada si gadis. la berkata, "Kamu harus menggunakan tulang ini sebagai kunci untuk membuka gunung yang terbuat dari gelas. Di sana, kamu akan dapat menemukan saudara-saudaramu."

Si gadis pun rnenyimpan tulang tersebut dengan hati-hati di pakaiannya dan pergi ke arah gunung yang ditunjuk oleh bintang fajar. Ketika tiba di gunung yang terbuat dari gelas, si gadis baru sadar bahwa tulang untuk membuka kunci gerbang gunung telah hilang.

Karena sangat ingin menolong ketujuh saudaranya, si gadis pun memotong jari kelingkingnya dan meletakkannya di depan pintu gerbang. Pintu tersebut kemudian terbuka dan si gadis dapat masuk.

Seorang kerdil menemuinya dan bertanya, "Anakku, apa yang kamu cari?"

"Saya mencari tujuh saudara saya, tujuh burung gagak," jawab si gadis.

Si kerdil berkata, "Oh, tuan-tuanku belum pulang ke rumah. Jika kamu ingin menemuinya, silahkan masuk. Kamu boleh menunggunya di sini."

Lalu, si kerdil menyiapkan makan siang untuk ketujuh saudara laki-laki si gadis yang telah menjadi burung gagak.

Karena sangat lapar, si gadis mengambil dan memakan sedikit makanan yang ada pada tiap-tiap piring dan minum sedikit dari tiap-tiap gelas kecil yang ada. Pada gelas yang terakhir, si gadis menjatuhkan cincin milik orangtuanya.

Tak lama kemudian, terdengar kepakan sayap burung di udara. Saat itu, si kerdil berkata, "Sekarang, tuan-tuanku sudah datang."

Saat ketujuh burung gagak akan mulai makan, mereka menyadari bahwa seseorang telah memakan sedikit makanan dari pining mereka. "Siapa yang telah memakan makananku?" kata salah satunya.

Saat burung gagak yang terakhir memeriksa gelasnya, ia melihat sebuah cincin di dalamnya dan berkata "Diberkatilah kita, saudara perempuan kita ada di sini. Inilah saatnya kita bisa terbebas dari kutukan."

Si gadis yang berdiri di belakang pintu mendengar perkataan mereka dan maju ke hadapan mereka. Ketujuh burung gagak Iangsung berubah kembali menjadi manusia. Mereka berpelukan dan pulang bersama ke rumah mereka dengan bahagia.

Pesan moral:
Jadilah anak yang baik dan menuruti perintah orangtu. Selain itu, berkorbanlah demi saudaramu. Sebab, suatu waktu, mereka juga akan berkorban untukmu.


Sumber: dongengceritarakyat.com

Saturday, May 6, 2017

Surga dan Neraka

Kemarin, 5 Mei 2017, ada seorang anak laki-laki berkebutuhan khusus, bertanya kepada saya, "Apa bedanya Surga dan Neraka? Dimana letakknya?  Apa isinya di Surga dan Neraka?"
Sontak saya bingung harus jawab apa.
Yang saya lakukan adalah bertanya balik, "Apa yang kamu tahu tentang Surga dan Neraka?"
"Saya tahu ada malaikat dan setan. Malaikat di Surga dan Setan di Neraka." jawabnya santai. "Benerkan, seperti itu? Memang Malaikat dan Setan terbuat dari apa sih?"
Jawab saya, "Iya. Malaikan dan Setan sama-sama ciptaan Tuhan. Tapi karena mereka berbeda perbuatannya, makanya satu ada di Surga dan satu di Neraka."
"Memang mereka berbuat apa kak?"
"Kalau Malaikat yang tinggal di Surga, ia selalu berbuat baik. Berbeda dengan Setan, mereka selalu jahat. Kamu mau tinggal di Surga atau Neraka?"tanya saya.
"Ya Surga dong kak. Memang di Surga ada apa aja sih?"
"Banyak."
"TV ada?"
Saya mengangguk dan tersenyum.
"Makanan? Rumah? Oh iya kak, katanya di Surga juga ada cewek-cewek ya kak?"
Tanya saya tersenyum lucu, "Memang cewek-cewek di Surga untuk apa?"
"Ya apa aja kak. Menurut kakak, buat apa?"
"Bisa aja buat cerita. Bercanda-canda. Sama ngobrol. Kayak kamu sama kakak sekarang."
"Oh, jadi kakak Malaikat ya? Kalau gitu aku mau tinggal di Surga aja."ia tersenyum.
Saya tersenyum, "Iya boleh aja. Tapi kamu harus berbuat baik. Jangan nakalin temennya, harus sayang sama mereka. Terus bantu temannya."
Ia mengangguk.
Kali ini ia bertanya lagi, "Kak, kalau aku mati, aku masuk Surga apa Neraka ya? Kan aku dikain kafanin, kalau kakak didandanin cantik. Bedanya apa kak?"
"Ya tergantung kamu."jawab saya sambil berpikir. "Ya sama aja. Itu kan cuma cara pemakaman. Toh nanti, akan bertemu Tuhan juga."
"Kalau di Surga ada anak kecil enggak kak? Kok katanya, ada ibu, ayah, dan adik. Memang mereka gimana masuk Surganya?"
"Ada anak kecil kalau berbuat baik. Kamu berbuat baik enggak?"tanya saya dan disusul anggukan anak ini. "Kalau nanti meninggal, kebaikan kamu dihitung, terus kamu masuk Surga kalau kamu selalu berbuat baik."
"Oh gitu kak, jadi di Surga rame dong kak?"
Saya mengangguk.

Selesai berbincang dan saya pulang ke rumah. Saya baru berpikir. Kok bisa anak seusianya (belasan tahun) yang berkebutuhan khusus, intellectual disability (re: tunagrahita) bertanya hal ini. Saya jadi berpikir, apakah saya ditegur Tuhan (secara tidak langsung) mengenai hal ini untuk diingatkan berbuat baik? Atau memang Kiamat sudah dekat sehingga semua orang membahas hal ini?

Yang bisa saya lakukan adalah berpikir ulang. Mengenai apa yang diucapkan, lebih baik dipikirkan terlebih dahulu. Khususnya di depan anak-anak. Mereka selalu mengingat dan memiliki berbagai pertanyaan tentang segala hal. Seburuk apapun kecerdasan mereka ataupun sesibuk apa pun anak itu. Kadang orangtua berpikir bahwa anaknya sibuk main dan tidak mendengar, sehingga ada beberapa orangtua yang mengucapkan hal buruk terhadap anaknya. Ingat mereka itu merekam apa pun yang kita ucapkan dan lakukan. Jadi berhati-hati berbicara, apalagi membicarakan keburukan mereka dan membicarakan orang lain.

Friday, May 5, 2017

untitled

Ku berjalan dalam gelap hanya ditemani sang bulan
Merasakan lembutnya pasir pantai
Mendengar deburan ombak
Sentuhan lembut pada figura nan indah
Seperti melodi dalam lagu cinta yang menggelorakan asmara
Duduk di atas bebatuan menyadari belaian sang angin malam
Lembutnya awan menyejukkab jiwa
*what should i call you, crayon, watercolour, glitters or rainbow or what. Cause you add colour to my life*

Thursday, May 4, 2017

no title

Terpaan angin membangunkanku dari mimpi semalam
Dan kulihat secercah senyum diwajahmu
Mencium keningku hingga hangat tubuhku
Peluk mesra menggejokkan jiwa
Api asmara membakar kalbu
Menayakan kau milikku
*the starts hid mystery in her eyes*