Translate

Saturday, August 30, 2014

be a genie

Gue bisa mengabulkan permintaan elo. Seriusan!

Tell me, your wish right now

Ambil kertas dan tulis satu keinginan elo buat masa sekarang dan alasannya. Udah? Balik kertas tersebut dan tulis satu keinginan elo buat masa depan minimal 10 tahun ke depan dan tulis sebuah nama yang bakal ada di samping elo saat keinginan elo terkabul.

Lakukan yang serius ya. Udah? Udah yakin belom? Pikirin dulu keinginanya yang serius. Ntar nyesel lho kalo gak serius. Coba cek lagi deh, biar yakin. Kalo udah taro alat tulis elo tadi. Lipat kertas tersebut sebanyak lima kali, biar kertas tadi jadi kecil. Simpan kertas tersebut di dalam dompet. Sekarang. Kenapa di dalam dompet? Biar elo selalu bawa permintaan elo kemana pun elo pergi.

Tadi udah inget kan keinginan yang akan datang apa? Biar keinginan elo terkabul, elo harus bayangin orang yang tadi elo tulis, apa sih kelebihan dia dibanding orang lain? Kenapa elo bisa milih dia? Apa elo udah yakin bisa hidup hanya bareng dia? Oke, sekarang balik lagi ke wish elo. Gimana sih caranya biar wish elo terkabul? Coba sebutin deh cara-caranya paling gak tiga caralah. Satu ... (Sebutin) dua ... (Sebutin) tiga ... (Sebutin) Nah lewat ketiga cara itulah elo bisa mengambulkan keinginan masa depan elo bersama dia (orang yang elo tulis namanya). Lakukan ketiga caranya. :P

Nah wish elo yang buat sekarang apa sih? Sebutin donk sebanyak delapan kali. Yang tulus nyebutinnya. Mentang-mentang gue suruh nyebutin banyak malah nyebutinnya cepet-cepet. Pelan-pelan dan dihayati. ... Udah? Sekarang elo ambil bantal. Terserah bantal kepala kek, bantal guling kek, apa aja yang penting bisa buang ganjel kepala. Udah? Abis itu coba tidur dan berimajinasi dengan keinginan elo. Jangan lupa sambil nyebutin wish nya yaaa. :P

Mau tau gak kenapa gue suruh elo tidur? Soalnya gue rasa orang-orang sekarang kurang istirahat dan udah jarang berimajinasi. Apalagi tuntutan jaman yang serba sibuk. Imajinasi baik lho buat meningkatkan kreatifitas dan relaksasi. Dengan berimajinasi, elo bisa mengeluarkan segala keinginan elo yang terpendam dan melatih otak kanan elo. Kan otak kiri sama otak kanan mesti seimbang.

Tuesday, August 26, 2014

mimpi absurd

Mimpi ini gue alami semalam. Di dalam mimpi gue, gue sedang hamil. Terus ada di rumah sakit mau ngelahirin. Terus gak lama gue tidur dan bayi gue lahir. Seorang anak perempuan berrambut panjang dan berwajah jepang, bermata setengah sipit setengah belo, hidung pesek, pipi chuby, gendut gemesin, berkulit putih mirip seorang temen gue. Anak ini menggunakan baju berwarna biru dan bedong biru, sempat gue nanya ke susternya, "Kok baju anak saya warna biru padahal dia kan perempuan?" Dan si suster jawab, "Anak ibu yang minta." Terus gue langsung nanya sama anak perempuan gue yang baru lahir ini, "Bener kamu yang mau?" Dan anak gue ini jawab, "Iya."

Nah anehkan? Masa bayi bisa ngomong.

Lanjut mimpinya, gue gendong anak gue sambil mau buatin susu yang gak jauh dari ranjang rumah sakit terus dia senyum. Datenglah temen-temen gue kayak ngejenguk gitu dan nanya mana suami gue. Terus gue jawab, "Lagi jalan kesini." Terus gue sadar dan nanya ke temen gue, emang siapa suami gue? Mereka jawab sebuah nama ...(orang yang pergi tanpa alasan) Gue langsung bangun.

Absurd banget kan tuh mimpi?

Saturday, August 23, 2014

cara meningkatkan aura positif di dunia kerja

Dalam dunia kerja pasti ada kejenuhan, persaingan, iri dengki dan sebagainya. Hal ini adalah efek dari sistem kehidupan di kantor yang tak terelakkan karena di dalam kantor ada berbagai jenis karakter yang berbeda. Tidak masalah kalau Anda bukan orang yang populer atau tidak memihak suatu grup pergaulan tertentu. Yang pasti, jangan biarkan diri Anda terlibat dalam suasana yang membuat Anda down dan negatif.

Ada beberapa cara meningkatkan suasana nyaman dan aura positif di tempat kerja. Cobalah beberapa tips dari kami.

  1. Jadilah orang yang on time. Karena dengan begitu, Anda lebih punya banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu. Manajemen waktu yang baik dalam bekerja akan meningkatkan kenyamanan Anda dalam bekerja.
  2. Kehidupan kantor tidak lepas dari gosip. Oleh karena itu biarkan itu sekedar menjadi informasi kalau Anda tak yakin dengan kebenarannya. Tak perlu terlibat terlalu jauh karena tak akan mendongkrak aspek karir Anda. Malah bisa menjatuhkan kalau Anda melibatkan diri tapi salah langkah dalam menyikapi. Kalau orang lain menganggap Anda cari aman, anggap saja Anda sedang menjalani karir dengan profesional. No need to bother it.
  3. Ambil cuti dan libur adalah hal wajib. Saat cuti bersenang-senanglah, saat libur jangan mengerjakan yang tidak perlu. We need to take a break. Lagi pula ini lebih menyehatkan pikiran dan fisik Anda agar lebih nyaman di kantor keesokan harinya.
  4. Hargai semua orang, dari atasan, rekan hingga OB sekalipun. Atau bahkan orang yang sepertinya paling menjengkelkan dalam kehidupan karir Anda. Percayalah, tak ada orang yang tak segan pada mereka yang menghargai orang lain. Ini juga akan membuat pekerjaan jadi lebih lancar untuk dikerjakan baik secara individu maupun tim.
  5. Yang namanya masalah dalam pekerjaan pasti ada. Baik itu dengan bos, rekan kerja maupun pekerjaan. Tak ada jalan terbaik selain menghadapinya. Bila perlu, negosiasikan dengan partner atau bos Anda agar lebih fair dan nyaman. Sehingga stres kerja Anda tidak menjadi dua kali lipat.


Be more positive in your office. Kalau memang Anda sulit membangun hal ini di kantor, mungkin Anda memerlukan pandangan lain dalam pekerjaan. Satu hal yang perlu Anda ingat, do what you love and love what you do.

Sumber: vemale

Thursday, August 21, 2014

legenda Pulau Weh

Dahulu kala, Pulau Weh pada mulanya bersatu dengan Pulau Sumatera. Namun Tuhan berkata lain, dalam sebuah gempa bumi yang dahsyat, keduanya terpisah seperti kondisi sekarang yang berjarak 18 mil, hebat banget ya, dan Akibat gempa itu pula, Pulau Weh keadaannya menjadi tandus dan gersang.

Lalu ada seorang putri jelita di Pulau Weh yang meminta pada Tuhan agar Pulau Weh tidak gersang seperti itu lagi. Lalu putri tersebut membuang seluruh perhiasannya ke laut sebagai sesembahannya. Tidak lama kemudian hujan pun turun, disusul gempa bumi yang juga lumayan dahsyat. Akhirnya terbentuklah sebuah danau yang kemudian diberi nama Aneuk Laot di tengah-tengah pulau itu. Putri cantik itu pun kemudian terjun ke laut yang kemudian menjadi sebuah Pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Rubiah, dan lokasi yang menjadi tempat pembuangan perhiasannya menjadi taman laut yang memiliki terumbu karang yang indah berwarna-warni.

Monday, August 18, 2014

legenda Gunung Batu Bangkai

Loksado adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Di daerah ini terdapat sebuah gunung yang memiliki nama yang cukup unik, yaitu Gunung Batu Bangkai. Masyarakat setempat menamakannya demikian, karena di gunung tersebut ada sebuah batu yang mirip dengan bangkai manusia.

Konon, kehadiran batu bangkai tersebut berasal dari sebuah cerita legenda yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Banjar Hulu di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Cerita legenda ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Andung Kuswara yang durhaka kepada umanya. Karena kedurhakaannya, Tuhan menghukum si Andung menjadi batu.

Konon pada zaman dahulu, di suatu tempat di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Andung Kuswara. Ia seorang anak yang baik dan pintar mengobati orang sakit. Ilmu pengobatan yang ia miliki diperoleh dari abahnya yang sudah lama meninggal. Andung dan umanya hidup rukun dan saling menyayangi. Setiap hari mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Andung mencari kayu bakar atau bambu ke hutan untuk membuat lanting untuk dijual, sedangkan umanya mencari buah-buahan dan daun-daunan muda untuk sayur.

Suatu hari, Andung pergi ke hutan seorang diri. Karena keasyikan bekerja, tak terasa waktu telah beranjak senja, maka ia pun bergegas pulang. Di tengah perjalanan, ia mendengar jeritan seseorang meminta tolong. Andung segera berlari menuju arah suara itu. Ternyata, didapatinya seorang kakek yang kakinya terjepit pohon. Andung segera menolong dan mengobati lukanya. "Terima kasih banyak, anakku!" kata orang tua itu. Dia kemudian mengambil sesuatu dari lehernya. "Hanya benda ini yang dapat kai berikan sebagai tanda terima kasih. Mudah-mudahan kalung ini membawa keberun¬tungan bagimu," ucap kakek itu seraya mengulurkan sebuah kalung kepada Andung. Setelah mengobati kakek itu, Andung bergegas pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Andung menceritakan kejadian tadi kepada umanya. Usai bercerita, Andung menyerahkan kalung pemberian kakek itu sambil berkata, "Uma, tolong simpan kalung ini baik-baik". Umanya menerima dan memerhatikan benda itu dengan saksama. "Sepertinya ini bukan kalung sembarangan, Nak. Lihatlah, sungguh indah!" kata Uma Andung dengan takjub. Setelah itu, Uma Andung menyimpan kalung tersebut di bawah tempat tidurnya.

Kehidupan terus berjalan. Pada suatu hari, Andung terlihat termenung seorang diri. "Ya Tuhan, apakah kehidupanku akan seperti ini selamanya? Aku ingin hari depanku lebih baik daripada hari ini. Tapi…bagaimana caranya?" kata Andung dalam hati. Sejenak ia berpikir mencari jalan keluar. Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran Andung untuk pergi merantau. "Hmm…lebih baik aku merantau saja. Dengan begitu aku dapat mengamalkan ilmu pengobatan yang telah aku peroleh dari abah dulu. Siapa tahu dengan merantau akan mengubah hidupku," gumam Andung dengan semangat. Namun, apa yang ada dalam pikirannya tidak langsung ia utarakan kepada umanya. Rasa ragu masih menyelimuti hati dan pikirannya. Jika ia pergi merantau, tinggallah umanya sendiri. Tetapi, jika ia hanya mencari kayu bakar dan bambu setiap hari, lalu kapan kehidupannya bisa berubah. Pikiran-pikiran itulah yang ada dalam benaknya.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Andung benar-benar sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Keraguannya untuk meninggalkan umanya pun lenyap. Dorongan hati Andung untuk merantau sudah tak terbendung lagi. Suatu hari, ia pun mengutarakan maksud hatinya kepada umanya. "Uma, Andung ingin mengubah nasib kita. Andung memutuskan untuk merantau ke negeri seberang. Oleh karena itu, Andung mohon izin dan doa restu, Uma," kata Andung dengan hati-hati memohon pengertian umanya. "Anakku, sebenarnya Uma sudah bersyukur dengan keadaan kita saat ini. Tetapi, jika keinginan hatimu sudah tak terbendung lagi, dengan berat hati Uma akan melepas kepergianmu," sahut Uma Andung memberikan izin.

Setelah mendapat restu dari umanya, Andung segera berkemas dengan bekal seadanya. Andung membawa masing-masing sehelai kain, baju dan celana. Memang hanya itu yang ia miliki. Ketika Andung hendak meninggalkan gubuk reotnya, Uma berpesan kepadanya. "Andung …, ingatlah Uma! Ingat kampung halaman dan tanah leluhur kita. Jangan pernah melupakan Tuhan Yang Mahakuasa. Walau berat, Uma tak bisa melarangmu pergi. Jika takdir menghendaki, kita tentu akan berkumpul kembali," kata sang Uma dengan sedihnya.

Mendengar nasihat umanya, Andung tak kuasa menahan air matanya. "Andung, bawalah kalungmu ini. Siapa tahu kelak kamu memerlukannya," ujar Uma Andung melanjutkan. Setelah menerima kalung itu, Andung kemudian berpamitan kepada umanya. Andung mencium tangan umanya, lalu umanya membalasnya dengan pelukan erat. Sesaat, suasana haru pun meliputi hati keduanya. Ketika Uma memeluk Andung, beberapa tetes air mata menyucur dari kelopak matanya, jatuh di atas pundak Andung. "Maafkan Andung, Uma! Andung berjanji akan segera kembali jika sudah berhasil," kata Andung memberi harapan kepada umanya. "Iya Nak. Cepatlah kembali kalau sudah berhasil! Hanya kamulah satu-satunya milik Uma di dunia ini," jawab Uma penuh harapan. Beberapa saat kemudian, Uma berucap kepada Andung. "Segeralah berangkat Andung, agar kamu tak kemalaman di tengah hutan."

Andung mencium tangan umanya untuk terakhir kalinya, lalu pamit. Andung berangkat diiringi lambaian tangan Uma yang sangat dikasihinya. "Selamat jalan, anakku. Jangan lupa cepat kembali," teriak Uma dengan suara serak. "Tentu, Uma!" sahut Andung sambil berjalan menoleh ke arah umanya. "Jaga diri baik-baik, Uma! Selamat tinggal! Uma baru beranjak dari tempatnya setelah Andung yang sangat disayanginya hilang di balik pepohonan hutan. Sejak itu, tinggallah Uma Andung sendirian di tengah hutan belantara.

Berbulan-bulan sudah Andung meninggalkan umanya. Andung terus berjalan. Banyak kampung dan negeri telah dilewati. Berbagai pengalaman didapat. Ia juga telah mengobati setiap orang yang memerlukan bantuannya.

Suatu siang yang terik, tibalah Andung di Kerajaan Basiang yang tampak sunyi. Saat menyusuri jalan desa, Andung bertemu dengan seorang petani yang kulitnya penuh dengan koreng dan bisul. Andung kemudian mengobati petani itu. Dari orang tersebut Andung mengetahui jika Negeri Basiang sedang tertimpa malapetaka berupa wabah penyakit kulit. Karena berhutang budi kepada Andung, orang itu mengajak Andung tinggal di rumahnya. Setiap hari, penduduk yang terjangkit penyakit berdatangan ke rumah orang tua itu untuk berobat kepada Andung. Seluruh penduduk yang telah diobati oleh Andung sembuh dari penyakitnya. Berita perihal kepandaian Andung dalam mengobati pun menyebar ke seluruh negeri.

Suatu hari, berita kepandaian Andung mengobati penyakit tersebut akhirnya sampai ke telinga Raja Basiang. Sang Raja pun mengutus hulubalang menjemput Andung untuk mengobati putrinya. Beberapa lama kemudian, hulubalang tersebut sudah kembali ke istana bersama Andung. Andung yang miskin dan kampungan itu sangat takjub melihat keindahan bangunan istana. Ia berjalan sambil mengamati setiap sudut istana yang dihiasi ratna mutu manikan. Tak disadari, ternyata sang Raja sudah ada di hadapannya. Andung pun segera memberi salam dan hormat kepadanya. "Salam sejahtera, Tuanku," sapa Andung kepada Baginda.

Sang Raja menyambut Andung dengan penuh harapan. Dia kemudian menyampaikan maksudnya kepada Andung. "Hai anak muda! Ketahuilah, putriku sudah dua minggu tergolek tak berdaya. Semua tabib di negeri ini sudah saya kerahkan untuk mengobatinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Apakah kamu bersedia menyembuhkan putriku?" tanya sang Raja. "Hamba hanya seorang pengembara miskin. Pengetahuan obat-obatan yang hamba miliki pun sedikit. Jika nantinya hamba gagal menyembuhkan Tuan Putri, hamba mohon ampun Paduka," kata Andung merendah.

Andung pun dipersilakan masuk ke kamar Putri. Putri tergolek kaku di atas pembaringannya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya tertutup rapat. Walupun pucat pasi, wajah sang Putri tetap memancarkan sinar kecantikannya. "Aduhai, cantik sangat sang Putri," ucap Andung menaruh hati kepada sang Putri. Sesaat kemudian, Andung pun mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk membangunkan sang Putri. Namun, sang Putri tetap tak bergerak. Andung mulai panik. Tiba-tiba, hati Andung tergerak untuk mengambil kalung pemberian kakek yang ditolongnya dulu.

Andung meminta kepada pegawai istana agar disiapkan air dalam mangkuk. Setelah air tersedia, lalu Andung segera merendam kalungnya beberapa saat. Kemudian air rendaman diambil dan dibacakan doa, lalu ia percikkan beberapa kali ke mulut sang Putri. Tak berapa kemudian, sang Putri pun terbangun. Matanya yang kuyu perlahan-lahan terbuka. Wajahnya segar kembali. Akhirnya, Putri dapat bangkit dan duduk di pembaringan.

Semua penghuni istana turut bergembira dan merayakan kesembuhan sang Putri. Paduka Raja sangat berterima kasih atas kesembuhan putri satu-satunya yang sangat ia cintai Atas jasanya tersebut, Andung kemudian dinikahkan dengan sang Putri. Pesta perkawinan dilaksanakan tujuh hari tujuh malam. Semua rakyat bersuka ria merayakannya. Putri tampak berbahagia menerima Andung sebagai suaminya. Demikian pula Andung yang sejak pandangan pertama sudah jatuh cinta pada sang Putri. Mereka berdua melalui hari-hari dengan hidup bahagia.

Minggu dan bulan terus berganti. Istri Andung pun hamil. Dalam kondisi hamil muda sang Putri mengidam buah kasturi yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan. Karena cintanya kepada sang Putri begitu besar, Andung pun mengajak beberapa hulubalang dan prajurit untuk ikut bersamanya mencari buah kasturi ke Pulau Kalimantan.

Setibanya di Pulau Kalimantan, Andung berangkat ke daerah Loksado untuk mencari sebatang pohon kasturi yang dikabarkan sedang berbuah di sana. Alangkah terkejutnya Andung, karena pohon kasturi itu berada tepat di depan rumahnya dulu. Andung segera mengajak hulubalang dan para prajuritnya kembali. Rupanya ia tidak mau bertemu dengan umanya.

Mendengar keributan di luar rumahnya, seorang nenek tua renta berjalan terseok-seok menuju ke arah rombongan tersebut. "Andung…, Andung Anakku…!" suara nenek tua yang serak memanggil Andung. Dengan terbungkuk-bungkuk nenek itu mengejar rombongan Andung.

Andung menoleh. Ia tersentak kaget melihat sang Uma yang dulu ditinggalkannya sudah tua renta. Karena malu mengakui sebagai umanya, Andung membentak, "Hai nenek tua! Aku adalah raja keturunan bangsawan. Aku tidak kenal dengan nenek renta dan dekil sepertimu! ujar Andung kemudian memalingkan muka dan pergi.

Hancur luluh hati sang Uma dibentak dan dicaci maki oleh putra kandungnya sendiri. Nenek tua yang malang itu pun berdoa, "Ya, Tuhan Yang Mahakuasa, tunjukkanlah kekuasaan dan keadilan-Mu," tua renta itu berucap pelan dengan bibir bergetar. Belum kering air liur tua renta itu berdoa, halilintar sambar-menyambar membelah bumi. Kilat sambung-menyambung. Langit mendadak gelap gulita. Badai bertiup menghempas keras. Tak lama kemudian, hujan lebat tumpah dari langit. Andung berteriak dengan keras, "Maafkan aku, Uma…!" Tapi siksa Tuhan tak dapat dicabut lagi. Tiba-tiba Andung berubah menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Sejak itu, penduduk di sekitarnnya menamai gunung tempat peristiwa itu terjadi dengan sebutan Gunung Batu Bangkai, karena batu yang mirip bangkai manusia itu berada di atas gunung. Gunung Batu Bangkai ini dapat dijumpai di Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Wednesday, August 13, 2014

kisah di sebuah acara gereja remaja

Udah lama sih acara gereja nya. Pas gue masih kelas 1 SMP, berarti ada 10 tahun lalu, saat kejadian ini terjadi. Gue dan kedua sepupu gue yang sepantaran ikut acara gereja. Gue diajakin mereka sih, karena acara ini untuk anak remaja di gereja mereka. Sebut aja sepupu gue C dan J. C adalah seorang perempuan dan J adalah seorang laki-laki. Kami bertiga yang baru masuk awal remaja ini mencoba mencari teman dan bergaul. Gue sekamar dengan C dan seorang lainnya. Nah, kisahnya bukan tentang gue sama C atau gue sama J. Maupun temen sekamar gue. Tapi kisah gue sama orang lain.

Gak jadian ya. Ini cuma suka-sukaan doank. Cowok ini beda tiga tahun sama gue, jadi itungannya dia baru masuk SMA. Dia panitia, sedangkan gue peserta. Setiap panitia diwajibkan untuk berbaur dengan peserta. Oh ya, acara ini 3 hari 2 malam (seinget gue). Tradisi di acara ini adalah semua orang harus berbaur termasuk cewek dan cowok. Gue dan C selalu bersebelahan dan J juga di sebelah kita. Otomatis kemana-mana kita bertiga. Balik ke cowok itu, dia tinggi, gak gendut gak kurus (lumayanlah badannya), mancung, rambut jamur, dan muka kotak. haha gak kotak banget dikata kotak sepatu, ;p

Acara hari pertama hanya duduk-duduk dan mendengarkan ceramah. Jadi semua orang berasa belum dekat satu sama lain. Memang sih jam makan atau jam acara lainnya, semua orang diwajibkan untuk bertegur sapa. Tapi tetep aja, gak bisa deket banget kalau belum main bareng. Nah, saat makan setiap meja terdiri dari 10 orang dan harus cewek-cowok. Ya seperti biasa, gue sama kedua sepupu gue ini. Terus, sebelum makan kita berdoa bersama terlebih dahulu dan berdiri sambil membuat lingkaran besar. HARUS NYAMPURKAN?

Ya udah, gue sebelahnya C sebelahnya C, si J. Muncullah dia (si panitia), dia di samping gue dan kami bergandengan tangan. Lebih tepatnya saling meletakkan tangan (tangan kiri diatas dan tangan kanan dibawah), gue yang sebelah dia meletakkan tangan kiri gue diatas tangannya. Tangan gue yang kanan disepupu gue, C. Entahlah, tangannya si panitia berasa dingin dan gemetar, yang membuat tangan gue juga ikutan dingin. Kami berdua saling liat-liatan, mungkin sama-sama canggung jadi ya gitu. Setelah berdoa, kami duduk. Dia duduk lagi dimeja gue dan sepupu gue. Dia duduk tepat di depan gue. Ya kisah terus berlanjut. Kita duduk bersebelahan selama sesi berlangsung dan senyum kalau ketemu.

Hari kedua, acaranya adalah main-main yang dibuat per kelompok, gue dan kedua sepupu gue terpisah. Nah disinilah gue baru kenal dengan orang lain. Sayangnya, gue gak sekelompok dengan panitia ini. Tapi kami saling senyum kalau mata beradu. Udahlah acara hari kedua dan ketiga selesai. Pas makan pun, dia disamping gue lagi.

Pas pulang, setiap orang mesti buat guardian angel (ngirim surat) ke orang lain. Gue gak ngirim ke dia. Takut. Dan gue menemukan surat (yang gue rasa dari dia) dikotak nama gue, gak ada namanya cuma ada inisial M. "Smile, always believe in God, and trust your FEELING. :)"

Setelah itu, di tahun yang sama, gue ulang tahun dan geng gue memberikan gue boneka Pooh karena Pooh kesukaan gue. Akhirnya gue kasih nama si Pooh gue ini, Mario. Nama yang gak asing buat kisah gue tentunya. Jadi setiap gue liat Winnie the Pooh gue yang bernamakan Mario, gue ingat pesannya.

PS: ceritanya gak detail dan "rasa" gue udah gak ada sama dia. INI HANYA UNTUK SHARING!

Monday, August 11, 2014

legenda Pulau Andalas

Pada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit, diselat itu tinggalah seekor naga bernama Sabang, pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru di pimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam di pimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat Adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejam kepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.

Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang kerajaan Alam namun selalu di halangi oleh Naga Sabang, sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai.

Maka pada suatu hari dipanggilah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu di halangi oleh naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru.

“Yang mulia, Naga Sabang adalah penjaga selat Barisan, kalau naga itu mati makan kedua pulau ini akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka.

“Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru.

“Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka.

“Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.
Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya.

Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, ” Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam.

“Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga.

“Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan  berguncangan keras dan air laut akan surut,  maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga.

Sultan Alam menitikan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.

Maka pada waktu yang sudah di tentukan terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikn pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang naga.

Kemudian raksasa seulawah Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak,” Weehh!”, sambil melemparkan tubuh naga  itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah  tubuh naga itu jatuh terbujur di laut lepas.

Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, “Sabaaaaang!, sabaaaang!, sabaaang!” panggil Sultan Alam.

“Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, Teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.

Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai.

Tak lama setelah gempa berhenti, air laut surut jauh sekali sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.

Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira di  hantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadi mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.

Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang Adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangu sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.

Sumber: dongeng

Thursday, August 7, 2014

legenda Pulau Kaget

Pada zaman dahulu kala ada dua orang bersaudara kembar yang bernama Sutakil dan Sutakul. Keduanya tengah berada di Pulau Kaget untuk menebang empat batang kayu ulin yang tumbuh di pulau angker tersebut. Ketika itu keduanya telah berhasil menebang tiga batang kayu ulin dan tengah menyelesaikan penebangan kayu ulin yang keempat.

Konon dalam ceritanya, kayu ulin yang keempat ini sangat sulit ditebang, batangnya sangat besar dan sangat keras. Sudah satu minggu Sutakil dan Sutakul menebangnya, tapi kayu ulin dimaksud belum juga berhasil ditumbangkan. Sutakil dan Sutakul menjadi penasaran tapi, keduanya sudah bertekad pantang menyerah.

Kayu ulin yang mereka tebang ketika itu sesungguhnya bukan kayu ulin biasa, getah yang keluar dari bekas tebangannya berwarna merah dan mengeluarkan bau anyir persis seperti darah.

Dari kisah ini, suatu ketika Sutakil iseng-iseng melemparkan potongan kayu ulin bekas tebangannya itu ke dalam perapian. Muncul keanehan yang cukup mengagetkan, dari sana keluar bau gurih seolah dari daging yang terpanggang.

Sutakil yang merasa penasaran kemudian mengambil potongan kayu ulin yang terbakar itu, kemudian mencicipi atau mencecapkan rasanya di lidah, ternyata potongan kayu ulin dimaksud terasa lezat persis seperti daging panggang pada umumnya. Begitulah, sejak saat itu Sutakil dan Sutakul menjadikan bekas tebangan pohon ulin dimaksud sebagai lauk-pauk teman makan nasi mereka.

Namun akibatnya ulah saudara kembar ini, sungguh fatal, ketika suatu pagi setelah bangun, keduanya tiba-tiba berubah wujud menjadi dua ekor naga. Ternyata bekas tebangan kayu ulin yang mereka makan sebagai daging panggang dimaksud tidak lain adalah potongan tubuh dari seekor naga jelmaan.

Dari sinilah legenda dua pulau kembar dari pulau kaget ini berada. Karena kekagetan dua saudara kembar ini yang konon kemudian menjelma menjadi ular, sehingga pulau ini juga disebut pulau kaget.

Konon, menurut pandangan mata batin sejumlah paranormal di kota Banjarmasin, naga kembar jelmaan dari Sutakil dan Sutakul yang dimaksud hingga sekarang masih menjadi penunggu tetap Pulau Kaget yang angker itu. Pulau Kaget sendiri terletak di tengah-tengah Sungai Barito dan kini dikenal sebagai salah satu objek wisata andalan daerah Kalimantan selatan.