Translate

Sunday, July 13, 2014

grandma's true love story

Sebenernya sudah dari kemarin-kemarin diceritainnya. Tapi belom sempet nge-post. Oke, langsung aja deh.

Nenek gue adalah anak ke 4 dari 7 bersaudara. Dia anak orang kaya yang punya pabrik paku. Nah, saat berumur 17 tahun, dia baru sekolah di SMP. Seorang cowok yaitu kakek gue yang berusia 27 tahun sedang berada dibangku SMA, kakek gue itu merantau dari Bangka, jadi kerjanya cuma jual koran dengan penghasilan apa adanya dan kakek gue harus membiayai adiknya 2 orang lagi yang sama-sama merantau. Kakek gue anak pertama dari 7 bersaudara juga. Rumah kakek-nenek gue cuma beda gang, tapi dalam lingkungan yang sama.

Adik kakek gue berpikir, kenapa gak pergi ke sekolah barengan aja sama nenek gue, kan rumahnya deket. Sedangkan mereka (kakek gue dan adiknya) naik sepeda, nenek gue jalan kaki. Dari situlah mereka sering pulang-pergi ke sekolah barengan. Suatu hari, emak dari nenek gue mempergoki mereka pulang bareng (keadaannya mereka udah pacaran) dan emak dari nenek gue marah besar. Bapak dari nenek gue paling sayang sama nenek gue, jadi cuma dinasihatin doank. Sempet nenek gue nanya kenapa gak boleh sama kakek gue? Dan jawabannya adalah: "Orang Bangka tuh kasar sama istri, entar dipukulin terus kayak tetangga sebelah." Karena merasa gak puas dan gak setuju dengan jawaban bapaknya, nenek gue tetep pacaran sama kakek gue.

Nenek gue dilarang keluar rumah, tapi masih aja bandel. Keluar rumah dengan berbagai macam alasan. Entah buang sampahlah, mau beli minumanlah, mau nyapu halaman depan, dan segalanya. Setelah punya berbagai alasan, kalau ada peluang nenek gue pergi pacaran. haha lama-kelamaan emaknya tau. Hari itu juga, ada pengumuman tentang warga negara asing (WNA) harus balik ke negara asalnya. Buru-buru emaknya buatin tiket kapal laut untuk balik ke China. Nenek gue dibuatkan tiket bersama dengan adiknya yang cowok. Kedua kakaknya satu tiket juga.

Pas hari keberangkatan, nenek gue sakit panas dan jadilah mereka (nenek gue dan adiknya) gak berangkat. Hanya kedua kakaknya yang pergi. Kakek gue mau jenggukin nenek gue dan gak dikasih masuk rumah. Tapi nenek gue tau kalau kakek gue perhatian. Setelah sembuh, nenek gue langsung kabur dari rumah. Kakek-nenek gue kawin lari.

Mereka nyari rumah agak jauh dari rumah mereka sebelumnya. Beberapa bulan kemudian, diketahuilah pabrik orangtua nenek gue bangkrut dan mereka pindah ke daerah Puncak. Kakek gue datang ke Puncak bersama nenek gue sambil membawa makanan yang dimasak sendiri oleh kakek gue. Awalnya nenek gue ragu, nanti diusir gimana? Tapi dengan sabar kakek gue berkata, "Yang penting kita berbuat baik dulu, urusan diusir ya nanti aja." Mereka berdua pergi ke Puncak naik angkot.

Sesampai di Puncak, mereka berdua diterima. Mereka makan bersama. Bapak dari nenek gue nanya ke nenek gue, apa dia sering mukulin atau jahatin? Jawaban nenek gue, "Gak pernah sama sekali. Dia sayang dan sangat baik." Dari situlah, kakek gue diterima dikeluarga nenek gue.

Berlanjut ke keluarga kakek gue. 3 dari adiknya kakek gue ingin dibawa ke Jakarta semua. Tapi emaknya kakek gue gak mau, dia merasa di Bangka udah enak dan punya segalanya. Kalau di Jakarta mulai lagi dari nol. Jadi, semua pindah kecuali emak dari kakek gue yang tetap di Bangka. Mereka sekeluarga, bapak dari kakek gue, kakek gue, keenam adiknya membuat sebuah restauran. Kokinya adalah kakek gue sendiri. Waktu itu nenek gue sudah punya anak pertama dan sedang mengandung anak kedua yaitu emak gue.

Saat emak gue lahir, anak pertama nenek gue meninggal. Setahun berlalu, nenek gue mengandung anak ketiga. Waktu itu, nenek gue sedang menyuapi emak gue yang berusia 1 tahun di restauran mereka. Ada seorang bapak-bapak yang mengatakan, "Anak elo yang ini bisa mati lagi, kalau masih kurang ajar sama orangtua." Nenek gue langsung nangis dan kakek gue langsung datengin si bapak tadi. Ternyata maksud kurang ajar disini adalah kakek gue yang punya dendam sama emaknya (dia merasa emaknya itu gak sayang keluarga, maunya enak sendiri, gak peduli anak-anaknya yang banting tulang, dll). Si bapak tadi bilang harus cuci kaki emaknya dari kakek gue dan airnya diminum.

Bapak dari kakek gue menyarankan suruh aja emak dari kakek gue dateng ke Jakarta. Jadilah emak dari kakek gue datang dan kakek gue melakukan apa yang dikatakan bapak tadi dan mereka dikaruniai enam orang anak (terhitung dari emak gue anak kedua)

Inti dari cerita nyata ini:
1. Kalau yakin dia adalah cinta sejati ya kejar terus. Hati yang memilih bukan perkataan orang lain.
2. Cinta gak memandang harta.
3. Gak boleh kurang ajar sama orangtua.
4. Orangtua akan melakukan apa saja terutama demi anak-anaknya.
5. Hati yang sekeras batu, akan retak jika tak berhenti memberikan kebaikan.

PS: masih ada detail yang tidak diceritakan :)

No comments: