Translate

Tuesday, June 3, 2014

legenda bacang

Tau bacang gak? Kalau gak tau silakan tanya om google. Bentuknya yang segitiga dan kayak piramida ini ternyata punya kisahnya tersendiri dari negeri China. Gue denger cerita ini dari seorang dokter yang berumur sekitar 80 tahun-an. Dokter ini adalah dokter langganan keluarga. Dari nenek gue masih muda, nyokap gue masih kecil, gue masih kecil, dan sampai sekarang.

Oke balik ke bacang. Jadi dulu di China saat dinasti Zhou, ada seorang mentri yang baik hati, setia, dan jujur, Qu Yuan. Ia tau kalau Raja adalah orang yang baik. Tapi sayang, si Raja ini mudah terhasut dengan orang lain. Semua orang di kerajaan iri melihat kejujurannya, kesetiaannya, dan kebaikannya. Mereka yang iri mulai menghasut Raja.

Raja akhirnya memutuskan titah bahwa Qu Yuan harus mati. Karena jaman itu titah Raja adalah perintah, jadi semua orang harus mengikuti dan tunduk. Raja hanya menyuruh Qu Yuan mati, tetapi tidak memberitahu bagaimana caranya. Qu Yuan akhirnya pulang ke kampung dengan rasa sedih yang mendalam.

Dikampung, Qu Yuan pergi ke Sungai Miluo yang arusnya deras untuk meratapi nasibnya. Disanalah, Qu Yuan bunuh diri dan terjun ke dalam sungai. Warga yang mengetahui hal tersebut dan langsung mencari Qu Yuan. Warga percaya, Qu Yuan adalah orang yang baik, maka mereka berusaha mencari sekuat tenaga agar menemukan Qu Yuan.

Pencarian warga yang sangat heboh, membuat Raja mengetahui, bahwa Qu Yuan bunuh ke sungai. Akhirnya, si Raja menyesal karena telah menjatuhkan titahnya, tanpa pikir panjang. Raja menyuruh seluruh prajurit mencari Qu Yuan juga.

Berhari-hari, berminggu-minggu, mereka mencari, tetapi tidak menemukan keberadaan Qu Yuan. Muncullah inisiatif warga, 'Kasihan Qu Yuan berhari-hari tidak makan, bagaimana kalau kita buatkan makanan dan menaburkannya diseluruh sungai?' Mereka menaburkan nasi serta lauk. Tetapi makanan tersebut sudah langsung habis dimakan ikan dan belum sampai ke dasar sungai. Muncullah ide, nasi dan lauk tersebut dibungkus seperti piramida dengan daun pisang. Mereka membungkusnya dan melemparkannya ke dasar sungai.

Sejak hari itulah, nasi bungkus dan lauk serta bungkus daun pisang dinamakan bacang.

No comments: